Renungan

Pekerjaan Tanpa Bayaran

April 19, 2019

...

Kawan akan ku ceritakan sesuatu kepadamu.

Ini tentang sebuah pekerjaan, sebuah pekerjaan yang tidak bergaji.

Sebagai orang yang dewasa tentu kita memiliki sebuah tanggung jawab, salah satunya adalah bekerja bukan?

Tujuan kita bekerja pada umumnya apa?

Ya tentu mendapatkan imbalan berupa upah atau gaji yang pada umumnya dibayarkan bulanan. Itu menjadi hak seorang pekerja.

Dan tentunya kita sebagai seorang pekerja tidak akan bekerja seterusnya siang dan malam.

Biasanya kita bekerja hanya siang saja 8 jam atau lebih bisa juga kurang dari itu. Ada yang biasanya bekerja bergantian kadang siang kadang juga malam tapi tidak bekerja 24jam.

Tapi bagaimana jika ada sebuah pekerjaan yang waktu bekerjanya 24 jam dalam sehari.

Tidak ada libur meski tanggal merah, sakit tetap bekerja, pekerjaan ini memerlukan keterampilan.

Keterampilan itu tak cukup hanya satu bidang melainkan harus multi talenta atau banyak bidang, kamu harus bisa literasi, biologi, fisika, matematika dan pengetahuan umum dan yang lain sebagainya.

Dalam kondisi tertentu juga kamu di harapkan bisa bertindak sebagai dokter, meski kamu sendiri sedang dalam keadaan sakit.

Bahkan ketika kamu sedih kamu tidak bisa menampak kan kesedihanmu, kamu harus tetap tersenyum pada saat kamu bekerja.

Kira - kira berapa gaji yang layak di dapatkan dari pekerjaan tersebut. Bekerja tanpa libur, dengan 24 jam sehari dan memliki keterampilan luarbiasa.

Kira - kira berapa besar gaji yang kamu minta?

.

.

.

Tapi bagaimana jika pekerjaan tersebut tidak ada gaji?

Apakah masih ada yang mau mengerjakanya, kamu mau mengerjakanya?

Kira - kira kalau ada yang mau mengerjakan pekerjaan itu bagaimana dia. Menurutmu gimana?

Bodoh kah dia, tidak logis kah dia, kurang pintar kah dia? Pilihlah sendiri anggapan yang lain.

Namun nyata ada orang yang mau mengerjakanya, mengerjakan hal itu.

Apakah kamu percaya ada yang mau mengerjakanya?

Siapa orang yang mau mengerjakan pekerjaan seperti itu kira - kira?

.

.

.

IBU...

undefined

Benar bukan?

Ya memang hanya ibu yang sanggup mengerjakan hal itu.

Bekerja tanpa jam kerja, bekerja tanpa libur, bekerja tanpa peduli sehat atau sakit. Harus bisa semuanya

Lalu bagaimana dengan kita, masih mengeluhkah dengan pekerjaan yang menurut kita berat, yang di kata gajinya kecil dan tidak sesuai.

Lalu bagaimana dengan ibu kita? Apakah beliau mengeluh?

Tentu beliau mengeluh. Tapi kepada siapa dia mengeluh. Apakah dia mengeluh kepada ayah kita?

Tentu dia mengeluh, tapi apakah itu bisa mengobati keluh kesah nya.

Tidak, bahkan terkadang dia di marahi oleh bapak kita.

Bukanya di hibur malah di bilang manja, kebanyakan mengeluh.

Hancur hatinya ketika dia mengeluh bahkan kepada orang yang dia cintai.

Akhirnya dia tahan sendiri rasa keluh - kesah nya itu.

Tau mau dia menyakiti siapapun, dia akan tahan perihnya pekerjaan itu.

Dia akan tetap berusaha senyum, meski perutnya sedang lapar, meski badanya berkeringat gatal dan dia sakit.

Dia akan tetap menjadi orang yang tampak segar, tanpa dia merasa lelah. Dia tidak perduli dengan penampilan dirinya.

Tidak ada cukup waktu untuk memanjakan dirinya. Dedikasinya untuk pekerjaan itu 100% semua dia kerahkan dengan tulus dan ikhlas.

Hal itu adalah investasi kemanusiaan baginya, dia akan melakukan segalanya untuk membuat orang yang di sayanginya tidak sakit, tidak lapar, tidak lelah.

Dia berharap suami dan anaknya selalu sehat, bahagia. Dia bangun lebih awal tidur lebih akhir.

Akan tetapi apa yang dia dapatkan. Apa balasan yang dia dapatkan?

Tidak seindah yang dia bayangkan. Bahkan sering luka hatinya menerima tanggapan akan pekerjaanya.

Di bilang tidak becus, malas, bahkan di bilang bodoh. Sungguh luka hatinya. Luka sekali.

Tapi dia akan tetap tersenyum melihat anak dan suaminya yang sehat, makanya lahap.

Dia akan melupakan perih yang dia rasakan, meski terkadang dia menangis sendiri di ujung ruangan tersembunyi.

Sungguh dulu aku tidak mengerti dan memahami hal itu.

Kawanku, apakah yang telah kita berikan kepada ibu mu? Sudahkah kau membahagiakan nya?

Apa yang ingin kau katakan kepadanya sekarang?

Apakah engkau masih malas kalau ibu memintamu untuk membantu pekerjaanya?

Apakah kamu lebih memilih main game dibanding pergi ke warung untuk menuaikan tugas dari nya untuk membeli bumbu masak?

Apa engkau lebih memilih sibuk dengan sosial media mu di banding membantunya mencuci piring?

Apa engkau lebih memilih asik menonton televisi dibandingkan pergi ke kamar mandi untuk menyuci pakaian yang kau kenakan?

Apakah engkau tega?

Apakah pekerjaanmu sudah jauh lebih berat darinya sehingga kau tak mau menyapu rumah yang kau kotori karena sisa - sisa sampah yang kau buat?

Apakah engkau masih meninggikan suaramu dihadapanya?

Apakah kau merasa engkau lebih benar di banding dia, sehingga seenaknya saja engkau membentaknya?

Apakah disaat dia mulai menua, dia mulai lupa, dia mulai mudah marah - marah dan kau tinggalkan saja dia sendiri.

Apakah enggau tak lagi membutuhkan jasanya disaat beliau sudah semakin sulit untuk bekerja karena usianya yang telah menuju senja?

Apakah engkau masih tega berkata bahwa ibumu menyakiti hatimu?

Apakah dia terlalu banyak menyakitmu, atau kamu yang tak punya hati sehingga kau ceritakan keburukan orang tuamu itu kepada teman - temanmu?

Apakah setelah engkau menikah sudah tak ada lagi kewajibanmu untuk berbakti kepadanya?

Hanya itukah gunanya dia ada, melahirkanmu, membesarkanmu lalu kau tinggalkan.

Apa kau tega melihat masa tuanya yang begitu menderita, sendiri, susah serba terbatas dan sering kau marahi, kau bentak kau tertawakan kau anggap dia bodoh idiot dan sebagainya? Dimanakah hati dan perasaanmu?

Apakah kamu bangga karena kau telah mengirimi dia uang setiap bulanya dari gajimu yang besar itu?

Apakah kamu sudah menganggap dirimu sudah berbakti kepadanya?

Kapan terakhir kali kau bilang kau mencintainya, kau menyayanginya, kau kangen dengan dia. Seberapa sering hal itu kau ucapkan kepadanya di banding dengan kekasihmu, atau pacarmu, atau istrimu atau suamimu?

Seberapa sering kau menciumnya dibandingkan dengan kau mencium kekasihmu?

Sungguh berat pekerjaanya.

Untuk para ibu, para istri, ibuku dan istriku tetaplah semangat menjalankan tugasmu. Aku tau engkau lebih sering luka hatimu. Tapi tak masalah bagimu selagi engkau dapati anak dan suamimu yang sehat raganya.

Aku berdoa semoga anak dan suamimu akan tetap sehat dan juga menyayangimu dengan tulus. Seperti dirimu yang tetap mencintainya dengan tulus tanpa mengeluh.

Wahai ibu yang telah lanjut usiamu, tak apa kalau kau merasa kau menyulitkan anakmu. Sungguh kasih mu tak akan hilang di tindas masa. Kasihmu abadi selamanya.

Jika kau jatuh bangkitlah kembali, ingatlah wajah senyum anakmu, ingat senyum suamimu itu adalah kekuatanu bukan. Ingatlah mereka hidup karena cinta kasihmu.

Suatu saat engkau akan mendapatkan balasan dari pekerjaan berat itu.

I love you ibuku dan ibu dari anak - anaku.

Subscribe to My Newsletter

Thank you for your interest in my blog. Sign up to my newsletter to stay current on the latest news and information me and to be the first to see new blog posts.